Akhlak Mahasiswa dalam Perspektif Islam
Artikel: Akhlak Mahasiswa dalam Perspektif Islam
Pendahuluan
Akhlak adalah fondasi perilaku yang mencerminkan karakter dan kepribadian seseorang. Dalam perspektif Islam, akhlak bukan sekadar etiket, melainkan cerminan nyata dari keimanan dan ketakwaan seorang hamba. Bagi mahasiswa, menanamkan dan mempraktikkan akhlak mulia adalah sebuah keharusan. Hal ini bertujuan untuk membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial, sehingga dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi diri sendiri, lingkungan kampus, dan masyarakat luas.[1]
Pengertian Akhlak
Secara etimologis, kata akhlak (الأخلاق) berasal dari bahasa Arab khuluq (خُلُق) yang berarti budi pekerti, perangai, atau tabiat.[2] Secara terminologis, akhlak mengacu pada seperangkat sifat yang mengakar dalam jiwa, yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan, tanpa perlu pertimbangan panjang. Apabila sifat itu melahirkan perbuatan terpuji, maka disebut akhlak mahmudah (akhlak terpuji). Sebaliknya, jika melahirkan perbuatan buruk, maka disebut akhlak mazmumah (akhlak tercela).
Akhlak al-hasanah (akhlak baik) mencakup sifat-sifat seperti:
· Jujur (Ash-Shidq)
· Sabar (Ash-Shabr)
· Sopan Santun (Al-Haya' wa al-Adab)
· Adil (Al-'Adl)
· Amanah (dapat dipercaya)
· Pemurah (Al-Karam)
Sumber Akhlak dalam Islam
Akhlak dalam Islam bersumber dari dua wahyu utama:
1. Al-Qur'an: Pedoman utama umat Islam. Allah SWT berfirman:
"إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ"
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)[3]
2. As-Sunnah (Hadis Nabi): Keteladanan dari Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:
"خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ"
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)." (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruquthni. Hadis hasan)[4]
Penerapan Akhlak Mulia bagi Mahasiswa
Sebagai generasi penerus dan agen perubahan, mahasiswa harus menginternalisasi akhlak mulia dalam setiap aspek kehidupannya:
1. Di Lingkungan Kampus:
· Hormat kepada Dosen dan Tenaga Kependidikan: Memperlakukan mereka dengan sopan, mendengarkan dengan baik, dan menggunakan bahasa yang santun.
· Bersikap Baik kepada Teman: Menjauhi ghibah (menggunjing), hasad (dengki), dan permusuhan. Sebaliknya, mengedepankan sikap saling menasihati dalam kebaikan (al-haqq) dan kesabaran (as-shabr).
2. Dalam Aktivitas Belajar:
· Kejujuran Akademik (Academic Honesty): Menghindari segala bentuk plagiarisme, mencontek (ghisy), dan memanipulasi data.
· Semangat Belajar dan Kerajinan: Menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, memanfaatkan waktu dengan optimal, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
· Adil dalam Berargumentasi: Menyampaikan pendapat dengan bijak, menghargai pendapat orang lain, dan merujuk pada sumber yang valid.
3. Dalam Bermedia Sosial:
· Menyebarkan konten yang positif, edukatif, dan menyejukkan (rahmatan lil 'alamin).
· Menjauhi penyebaran hoaks, ujaran kebencian (hate speech), dan konten provokatif.
· Menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah yang santun (bil hikmah wal mau'idzah al-hasanah).
4. Dalam Kegiatan Sosial dan Kemasyarakatan:
· Aktif dalam kegiatan sosial, bakti masyarakat, dan membantu sesama sesuai kemampuan.
· Mengembangkan kepedulian terhadap masalah-masalah sosial di lingkungan sekitar.
· Menjadi problem solver yang solutif, bukan hanya kritikus.
Kesimpulan
Akhlak mulia merupakan fondasi karakter yang paling utama bagi seorang mahasiswa Muslim. Proses perkuliahan tidak hanya bertujuan untuk mendapatkan gelar dan ilmu pengetahuan (knowledge), tetapi juga untuk membentuk kepribadian yang utuh (syakhsiyah islamiyah). Dengan menanamkan dan mempraktikkan akhlak mulia sejak di bangku kuliah—seperti jujur, adil, sabar, dan bermanfaat—seorang mahasiswa telah mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas tinggi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
---
Footnote / Catatan Kaki
[1] Ali, Muhammad. Psikologi Akhlak Mahasiswa. Jakarta: Pustaka Islam, 2020, hlm. 15.
[2] Al-Ghazali, Imam. Ihya Ulumuddin, Jilid 3. Beirut: Dar al-Fikr, 2001, hlm. 120.
[3] Departemen Agama RI. Al-Qur'an dan Terjemahannya. Surah An-Nahl (16): Ayat 90.
[4] HR. Ahmad (no. 8939), ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath (no. 5786), al-Qudha'i dalam Musnad asy-Syihab (no. 122). Dinilai hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami' ash-Shaghir (no. 3289).
Komentar
Posting Komentar